Jumat, 20 Mei 2011

The Tale of Fairytale (Part VII)


Chapter 07: Sharing Warmth, The Coming of New Rival!
Jalanan berbatu yang licin dan dikelilingi oleh pohon-pohon dengan langit yang sudah agak gelap. Dengan panduan dari Arthur—Hankyung terus menyusuri jalan itu. Arthur dari tadi terus mengikuti jejak dari bau tuannya yang walau tersamarkan dengan bau hujan tapi semakin lama baunya semakin kuat. Hankyung tahu kalau Toki akan mengambil jalan ini karena bagaimanapun juga kalau dilihat dari sifatnya Toki yang serba cuek itu pasti dia akan tetap melewati jalan sesulit apapun. Ditambah lagi sepertinya gadis itu lebih memilih tempat yang lebih sepi.
Tiba-tiba Arthur berhenti berjalan dan menggonggong tepat di sebuah tempat terbuka dengan air terjun. Tempatnya memang indah dengan kunang-kunang berterbangan di sekitarnya. Entah ilusi atau kenyataan, Hankyung seperti baru saja melihat peri air di pinggiran kolam air terjun. Ia berkedip lalu melirik lagi ke arah pinggiran kolam dan ternyata halusinasi perinya itu adalah seorang anak manusia. MANUSIA!! ORANG!!
‘Oke, yang disana itu bukan peri air tapi orang sepertinya aku mulai berhalusinasi,’ batin Hankyung menenangkan diri, ‘Tampaknya orang itu sedang tidur, tapi mana ada orang yang tidur di tempat seperti ini? Bukan, orang itu bukan tidur tapi pingsan!’ Segera saja Hankyung berlari menghampiri si peri air, eh, orang yang pingsan di pinggir kolam tersebut.
Betapa terkejutnya dia begitu melihat yang terbaring di sana adalah Toki! Toki yang dalam keadaan basah kuyup dan tidak sadarkan diri alias pingsan. Arthur langsung merintih atau mendengking ketika melihat majikannya dalam keadaan seperti itu. Hankyung pun menarik Toki ke permukaan yang lebih kering. Lalu ia mengecek tanda-tanda vital gadis itu dan bernafas lega ketika mengetahui kalau Toki baik-baik saja selain tubuhnya yang memar-memar dan luka-luka.
“Toki, bangunlah,” kata Hankyung sambil menepuk pipi Toki. Tapi gadis itu tidak bergeming sedikitpun. ‘Badannya dingin… sudah berapa lamakah dia dalam keadaan seperti ini?’ tanyanya dalam hati.
Tiba-tiba ada kilat dan suara petir menggelegar lalu hujan pun turun. Hankyung membopong Toki dan membawanya ke tempat yang terlindungi dari hujan. Kali ini saat Hankyung menggendong Toki seperti ini ia dapat melihat sisi lain Toki yang sedang tidak dalam mode jahilnya, Toki yang tidak memasang topeng apapun.
Setelah mencari dan terus mencari akhirnya ia mendapatkan sebuah gua di dekat air terjun. Mereka harus menunggu sampai hujan reda kembali barulah mereka bisa kembali ke hotel. Hankyung membaringkan Toki di dataran yang rata dan tidak terjal. Arthur berbaring di dekat majikannya sambil mendengking sedih. Makhluk berbulu itu juga khawatir dengan keadaan Toki yang dipenuhi dengan luka dan memar. Hankyung kembali memeriksa luka dan memar yang ada di tubuh Toki dan ia melihat luka yang cukup dalam di kaki kanan gadis itu. Hankyung lalu pergi keluar untuk membasahi saputangannya di air terjun dan kembali lagi lalu membersihkan luka yang ada di kaki kanan Toki.
“Kou…” bisik Toki mengigau.
Hankyung terkejut dan mundur sedikit karena igauan Toki yang tiba-tiba keluar. Ia mencoba membangunkan Toki lagi tapi dia malah merintih. Ketika ada petir yang tiba-tiba menumpang lewat—kedua mata Toki terbuka serentak seperti zombie yang bangkit dari kubur. (Hiii~, sereeeemm~)
“Toki? Gwaenchanha?” tanya Hankyung sambil kembali mendekat ke arah Toki. Menutup jarak yang biasanya dibuat oleh gadis itu.
Toki langsung menoleh ke sampingnya begitu mendengar suara orang lain menyebutkan namanya. “Hankyung…?” ucapnya lemah.
“Syukurlah kau sudah sadar…” desah Hankyung.
Mata Toki melirik ke sekelilingnya yang gelap. Ia selalu tidak bisa melihat sekelilingnya walau dengan cahaya yang redup atau remang-remang. Dan ia tahu Hankyung berada di sampingnya dari suara dan baunya. Semakin lama dia jadi makin mirip anjing… Toki lalu bertanya, “Ini dimana?”
“A, aku juga tidak tahu. Aku hanya membawamu ke tempat yang tidak terkena hujan yang kembali turun,” jawab Hankyung sambil mengalihkan pandangan matanya. Dia terlalu terlalu malu untuk melihat ke arah Toki yang memakai pakaian yang basah dan tembus pandang. (Tut!Tuuutt! Rating M for 18+! xO)
Toki memandang Hankyung dengan heran lalu ia bergerak untuk bangun. Akan tetapi kaki kanannya yang terluka cukup parah menahannya dan membuatnya meringis kesakitan. Ketika ia melihat pakaiannya yang basah dan tembus pandang itu—ia pun mengerti kenapa Hankyung tidak mau memandang ke arahnya.
“Hatsyii—!” bersin Toki tiba-tiba. Tiba-tiba ia gemetaran dan menggigil karena kedinginan. Sampai-sampai dia tidak tidak bisa merasakan ujung jari kedua tangan dan kakinya.
“Kau masuk angin…” kata Hankyung menegaskan karena dia tahu pasti Toki akan membantahnya. Ia mengecek suhu badannya Toki. “Kau demam tapi seluruh badanmu terasa dingin…”
“Aah, suhu tubuhku biasanya memang lebih rendah,” sahut Toki dengan gigi bergemerincing karena gemetaran—menggigilnya yang semakin parah saja.
‘Tuh ‘kan dia membantahnya,’ kata Hankyung dalam hati. Lalu ia mengeluarkan jaketnya Toki yang ia ‘pinjam’ dari kantong jaketnya dan memberikannya kepada sang pemilik. “Ganti pakaianmu dengan ini…” katanya dengan wajah memerah.
Hey! This is my jacket! How did you—…” seru Toki tapi terputus ketika ia melihat pandangan mata Hankyung. Ia memandangi Hankyung dengan tatapan tajamnya. Tapi Hankyung tidak bereaksi apa-apa dan mukanya mengarah ke arah yang berlawanan. Toki pun memutuskan untuk melepas t-shirtnya yang basah. “Jangan mengintip ya…”
“T, tidak akan…” jawab Hankyung dengan punggung menghadap ke arah Toki. Dia sudah memerah hingga ke kuping-kupingnya.
Dengan cepat Toki melepas t-shirtnya. Ketika dia tidak dapat membuka resleting jaketnya karena jarinya mati rasa karena kedinginan ia menggunakan giginya. Bisa membuka tapi tidak bisa menutupnya. Ia kembali disulitkan dengan menarik kembali resleting jaketnya.
“Toki, kau sudah selesai?” tanya Hankyung.
“Sebentar, aku tidak bisa menarik resletingnya…” jawab Toki lalu ia menggumam, “stupid zipper…
“Toki?” panggil Hankyung sambil berbalik badan. Dan ia melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilihat. Cepat-cepat dia berbalik lagi. “Maaf…” ucapnya malu-malu.
“… Hankyung… tolong tarikkan resletingnya…” pinta Toki dengan mata sayu karena demam.
Pemuda Cina satu ini menghela nafas. Dia tidak bisa menolaknya apalagi dengan pandangan mata yang memohon-mohon seperti itu. Hankyung lalu menutup matanya dan tangannya meraih, mencari-cari benda menyebalkan sekaligus pembawa keberuntungan bernama resleting.
“Uh, Hankyung? Yang kau sentuh itu kancing celanaku… yah~ walau nanti aku juga membutuhkan bantuanmu untuk membukanya,” kata Toki dengan nada suara bercandanya. Sebenarnya di dalam dia sangat gugup. Dia tertawa geli ketika tangannya Hankyung menyentuh perutnya, “Okay, that’s my abdomen…”
“Maaf,” ucap Hankyung setelah menemukan benda metal yang dari tadi dicarinya. “Kukira bantal…” guraunya.
Toki langsung mencubit pipi Hankyung. “Yaa, memangnya perutku segendut itu?” Lalu dia berdiri untuk melepas celana hotpantsnya dengan bertumpu pada kaki kirinya. “Brrrr… dingin…. Ini musim panas atau musim dingin sih…” gumamnya. Jaketnya yang panjang hanya menutupi sampai tengah pahanya dan jaket tersebut tidak berlengan sehingga ia hanya merasakan hangat di badan sedangkan tangan dan kakinya membeku. Toki mengibaskan rambut pendeknya seperti anjing yang basah. Di sampingnya Arthur juga melakukan hal yang sama.
“Kalian ini tidak anjing tidak majikan sama saja,” celoteh Hankyung yang tertawa kecil ketika melihat tingkah laku Toki dan Arthur yang tidak beda jauh.
“Hoho~ kau iri?” sindir Toki sambil mengusap-usap pipinya. ‘Hm, aneh… kenapa aku merasa mata kiriku terlalu polos? Jangan-jangan…’ batinnya. Ia menyentuh bola mata kirinya dan merasa janggal. Dia kehilangan contact lens mata kirinya. “Nooo, I lost it again…” erang Toki sambil menggigil kedinginan.
“Toki?” panggil Hankyung meminta perhatian gadis yang sedang sibuk sendiri itu.
“Hm?” sahut Toki sambil membalut kaki kanannya dengan perban yang selalu ia bawa kemana-mana di dalam tas pinggang ajaibnya.
“Kemarilah…” perintahnya sambil mengulurkan tangan kanannya.
Toki mendekat saja ke arah Hankyung seperti seekor anak kucing yang tersesat, tapi sebenarnya ia seperti tertarik oleh magnet. Dan tiba-tiba Hankyung menarik Toki dan membuat gadis itu duduk di pangkuannya(Aww, awkward position~). Dia lalu memeluk Toki dengan jaketnya menyelimuti tubuh mereka berdua.
“A, apa yang kau lakukan!?” seru Toki dengan wajah memerah karena demam dan karena sesuatu yang lain. “Lepaskan~!”
“Diamlah, aku mencoba menghangatkanmu,” kata Hankyung mengunci segala gerakan Toki. “Keadaanmu akan semakin memburuk bila tubuhmu tidak segera dihangatkan.”
“Aku tahu~ tapi tidak harus begini ‘kan?” protes Toki sambil bergerak-gerak terus dari tadi akibatnya dia jadi semakin terperangkap dalam dekapannya Hankyung.
“Kumohon, diamlah sebentar,” ujar Hankyung yang sudah membenamkan wajahnya di pangkal lehernya Toki lagi. Ia dapat mencium aroma khasnya Toki yang sama persis dengan yang ada di dalam botol kecil. Aroma teh dengan campuran bunga sakura, moonflower, dan obat steril. Ia menyukai aroma Toki yang dapat membuatnya merasa tenang dan damai seperti sekarang ini.
Di sisi lain Toki saat ini sedang merasa deg-degan. Biasanya dia selalu tidak masalah saat dipeluk oleh lawan jenis. Toh, sebenarnya sepupunya itu kebanyakan laki-laki, ia masih heran bagaimana bisa Yongso masih dilahirkan sebagai perempuan walaupun kadang-kadang perangainya seperti laki-laki. Laki-laki yang pernah memeluknya hanya sepupu dan teman-teman dekatnya, tapi ia tidak pernah sampai merasakan perasaan berdebar-debar seperti sekarang.  Dan tanpa disadari olehnya dia sudah berubah menjadi seperti tomat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Memang membantu sih untuk kondisinya yang sekarang.
“Walau terlihat pasif, tapi ternyata kau berani juga ya,” ujar Toki dengan maksud mau menyindir, tapi ternyata tidak mempan terhadap Hankyung yang hanya mengucapkan terima kasih. “Kira-kira kapan hujannya akan reda?”
“Entahlah, semoga saja cepat reda,” jawab Hankyung yang masih dalam posisi memeluk Toki dengan kepala menyandar di pundak gadis itu.
Toki terdiam ketika ia kembali membuka mulutnya yang keluar hanya kata-kata dengan nada yang terdengar sedih dan ketakutan, “Aku benci hujan dengan petir seperti sekarang… Badai selalu mengingatkanku dengan mimpi burukku, ketakutanku…”
“Kau tidak perlu takut, kau tidak sendiri,” kata Hankyung.
Mendengar kata-kata manis dari Hankyung, senyum kecil tersungging di wajah Toki. “Seharusnya kau katakan hal itu kepada dirimu sendiri. Dari melihatmu aku tahu kau selalu mengurung diri, mengisolasikan dirimu dari dunia luar. Kau menyimpan semuanya sendiri,” tutur Toki, “kau merasa sendirian, kau merasa tidak nyaman… Apakah kau tidak pernah berpikir sekali saja untuk menceritakannya kepada orang lain?”
“Kenapa kau menanyakan hal ini kepadaku, Toki?” tanya Hankyung.
“Kalau aku menerima kehadiranmu apakah kau akan terbuka?” balas tanya Toki tidak menghiraukan pertanyaan dari lawan bicaranya.
“… Kau mau menerima kehadiranku saja sudah cukup, aku akan membuka diriku kepadamu,” jawab Hankyung mengeratkan pelukannya. Ia takut kalau Toki akan menghilang begitu saja seperti yang dilakukan oleh orang yang pernah mengambil hatinya.
“Hhh, aku tidak menyangka kalau aku akan dibuat bicara serius begini olehmu,” desah Toki, “kau benar-benar berbeda…”
Sambil menunggu hujan dengan angin kencang dan petir itu reda mereka berdua tertidur dengan keadaan saling merapat, Hankyung memeluk Toki yang meringkel dalam dekapannya.

+             +             +

Sementara itu di lobby hotel keadaannya sungguh tidak enak. Suasana muram mengelilingi Yongso dan para member Super Junior. Totto dan Louis tampak sedang mendiskusikan sesuatu dengan saling berbicara dalam bahasa Jepang. Sedangkan manajer Ilsan baru saja kembali lagi entah dari mana bersama dua orang lainnya. Jarak di antara Yongso dan Eunhyuk terlihat sangat lebar. Untungnya tidak ada wartawan di lobby.
Yongso melirik ke arah orang-orang yang datang bersama manajer Ilsan dan tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah menjadi terperangah, seakan-akan ia baru saja melihat setan atau hantu atau semacamnyalah.
“Lorry ajeossi!” seru Yongso sambil berlari menghampiri ke arah pria yang tubuhnya lebih tinggi dari Siwon ataupun Totto yang saat itu paling tinggi di ruangan ini sebelum kedatangan sang Mighty Presiden Direktur LME, Lorry Takarada.
The Mighty Lorry Takarada, atau nama aslinya Lorry Kuzuryu adalah Presiden Direktur LME yang menguasai dunia Entertainment di seluruh dunia. Orang Jepang yang agak terlihat bergaya Arab dan berkumis ini adalah pamannya Yongso dan Toki. Dikabarkan oleh salah satu majalah Showbiz beliau sebagai Presdir ternyentrik di dunia Showbiz. Tapi sekarang beliau kelihatan normal-normal saja. Padahal biasanya sehari saja tidak pernah lepas dari keanehan dan kehebohannya.
Presdir Lorry tersenyum ke arah Yongso. “Oh, my little sweet niece Yongso~,” ini cara Presdir memberi salam ke anggota keluarganya. (Lebay? Melambai~)
“Kapan ajeossi tiba? Kukira ajeossi akan tiba besok,” tanya Yongso.
“Baru tadi sore kok. Karena ada sedikit urusan dengan beberapa talents jadi datang lebih cepat, tapi ajeossi tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini,” jawab Presdir Lorry.
“Aku juga…” ujar Yongso sedih.
“Yongso-chan?” kata seorang pemuda yang berdiri di sebelah Presdir Lorry. Perawakannya tidak setinggi Presdir Lorry tapi cukup jangkung seperti Louis. Kulitnya putih seperti boneka porselen, rambutnya pendek dan turun berwarna dark brown yang terlihat halus bak sehelai sutra, dan kedua matanya berwarna alice blue yang memandang dengan tatapan lembut. Kalau dilihat-lihat pemuda ramah ini mirip dengan Toki si anak hilang tapi versi cowoknya.
“Pei-ssi…” ucap Yongso terkejut sekaligus terpana melihat makhluk secakep malaikat jatuh. (wkwkwk, fallen angel nih ceritanya?)
Pemuda itu tersenyum ramah dan mengoreksinya, “It’s Faye, Yongso-chan.”
“Ah, benar Faye-ssi… Aku sampai lupa lafal namamu dengan bahasa Inggris karena kita sudah lama tidak bertemu,” kata Yongso sambil menutup mulutnya karena malu.
It’s okay. How’s life?” tanya Faye dengan senyum malaikatnya.
“Seperti biasa, aku mulai sibuk dengan pekerjaanku…” jawab Yongso ikut tersenyum, “bagaimana dengan Faye-ssi sendiri?”
“Sama saja, aku baru saja kembali dari Amerika dan ternyata Uncle Lorry mengundangku untuk datang ke perayaan ulang tahun LME cabang Korea Selatan.”
“Aigoo… Faye-ssi chukhae! Selamat atas penghargaannya!” seru Yongso terlihat senang.
“Terima kasih, Yongso-chan~.”
“Kita harus merayakannya!” seru Presdir Lorry.
Uncle, pertama kita harus menemukan Toki dahulu. Tidak seru rasanya bila tidak ada Toki,” sela Faye.
“Omona, aku sampai lupa dengan anak itu!” kata Yongso, “apakah dia baik-baik saja ya? Dia belum mati ‘kan?” (sadis amat sih kau, So)
Presdir Lorry mendesah, “Little Yongso, dia tidak mungkin sudah mati. Ini Toki yang kita bicarakan, Toki si anak tarzan…”
“Ajeossi, lalu apa yang akan kita lakukan? Aku tidak bisa diam begitu saja!” bentak Yongso frustrasi.
“Paman minta kau tidak bertindak sembarangan, Yongso. Setelah hujan reda aku akan mengerahkan tim pencarian lagi. Akan terlalu berbahaya bila kita bergerak sekarang,” jawab Lorry tetap tenang.
“A, algeosseumnida…” sahut Yongso dengan kepala tertunduk.
“… Yongso-chan, bagaimana kalau kau ikut dengan kami? Tadi aku melihat adikmu sedang bersama sekretarisnya uncle…” kata Faye sambil tersenyum. Senyumnya memang tidak pernah lepas.
Yongso tampak ragu dan matanya melirik ke arah dimana Eunhyuk berada. Tapi keputusannya sudah bulat. Dia akan menahan diri untuk sementara waktu. “Baiklah, aku ikut dengan kalian,” jawab Yongso.
“That’s my girl,” kata Faye sambil mencium pipinya Yongso. Lalu keduanya pergi menyusul Presdir Lorry dan manajer Ilsan yang sudah pergi duluan.

Di ujung sana Eunhyuk melihat seluruh percakapan itu dengan amarah berkecamuk dalam hatinya. Donghae, soulmate-nya mencoba untuk menenangkannya.
“Mungkin dia juga salah satu saudaranya seperti Totto-ssi,” kata Donghae.
“Mungkin juga…” ujar Eunhyuk mulai tenang kembali.
Tiba-tiba Shindong menyela, “Tapi kata Louis hyung, Totto itu bukan saudara kandungnya Yongso.”
“Donghee hyung, kau membuatnya semakin canggung,” kata Ryeowook.
“Tenang saja, Eunhyukkie! Saat ini Yongso milikmu!” seru Kangin memberikan semangat kepada dongsaeng-nya yang bermuram durja.
“Yaa, Youngwoon! Kecilkan suaramu, bisa-bisa ada yang mendengarmu tahu!” tegur Heechul.
“Tapi semua wartawan sudah pergi semua,” bantah Kangin.
“Hanya untuk berjaga-jaga, Kangin hyung,” kata Kibum.
“Jadi Totto itu apanya Yongso-ah? Bukan simpanannya ‘kan?” tanya Sungmin. Ada-ada saja bocah pink satu ini sampai mikir ke ‘simpanan’ segala.
“Mungkin hanya sekedar teman?” tebak Siwon yang selalu positif.
Tapi pikiran positif itu langsung dihancurkan oleh Yesung, “Sekedar teman tidak akan saling berpelukan seperti itu.”
“Hm…” gumam keempatbelas member Super Junior tanpa Hankyung ini, berpikir mencoba mencari nama hubungan yang tepat antara Yongso dan Totto.
Louis dan Totto yang sudah selesai berdiskusi menghampiri mereka. Keduanya heran dengan atmosfir yang penuh dengan tanda tanya tersebut. Karena terlalu seriusnya berpikir Heechul saja sampai tidak sadar ketika Totto mendekatinya(hahaha, siap diserang lagi kau Chulie!).
“Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Louis mengejutkan para member Suju tersebut.
“Louis-ssi, Totto-ssi! Kalian sudah selesai?” kata Leeteuk sambil memegangi dadanya. Dia hampir saja kena serangan jantung.
“Yeah, lalu apa yang sedang kalian lakukan tadi?” tanya Louis lagi.
“B, bukan apa-apa kok!” jawab Leeteuk sambil sesekali melirik ke arah Totto.
Louis melirik ke arah Totto tapi tidak ada yang aneh pada pemuda itu lalu ia mengembalikan pandangannya ke arah member Suju. “Leeteuk-ssi, kau seperti cewek yang naksir pada Totto. Sesekali melirik ke arah Totto seperti cewek yang tergila-gila padanya,” komentarnya, “sepertinya ada yang ingin kalian tanyakan?”
Tidak ada yang berani buka mulut kecuali Heechul yang selalu blak-blakan. Dia sudah menjauh lagi dari Totto begitu sadar kalau pemuda itu ada di dekatnya. “Ada hubungan apa antara Totto-ssi dengan Yongso?” tanyanya.
“What? Hubungan Totto dengan Yongso?” sahut Louis agak terkejut. “Hm, bagaimana ya? Agak rumit untuk dijelaskan dan lagi sepertinya kalian tidak menyadari posisi Totto dalam hubungan kami berempat, oh bukan berempat tapi berlima.”
“Kalian teman sepermainan ‘kan?” tanya Eunhyuk yang sudah pernah mendengar cerita tentang Yongso dari Toki ketika masih dalam masa PDKT.
“Untukku Totto, Yongso, dan Toki memang teman sepermainan lalu ditambah Faye yang tadi baru saja pergi dengan Yongso,” jawab Louis. “Coba kalian bayangkan dan gambarkan dalam kepala kalian. Posisi Faye sama dengan Yongso, lalu Totto di seberangnya, dan posisi Toki ada di antara mereka.”
“Saudara sepupu?” tebak Kibum yang pintar, si jenius ber-IQ 120.
“Ng, itu hubungan antara Yongso dan Faye, ya mereka saudara sepupu jauh. Yang artinya Faye juga merupakan sepupu Toki juga,” jawab Louis menikmati permainan tebak-tebakan ini.
“Sudahlah, Lou. Langsung beritahu mereka saja memang kenapa sih?” kata Totto yang sudah risih karena dirinya yang menjadi objek tebak-tebakan tersebut.
“Ya sutraaah, kalau Totto dan Toki itu saudara sepupu artinya Totto dan Yongso itu apa?” tanya Louis kepada para member Suju.
“Ya saudara sepupulah!” jawab Kyuhyun.
“Iya, mereka memang saudara sepupu,” kata Louis.
“Aish, tadi katamu bukan!” protes Heechul.
“Woi, aku belum selesai bicara, wahai Heerella,” kata Louis, “Mereka sepupu tapi beda keluarga. Kita lihat dari sisi Toki yang ada di antara tiga orang ini deh. Yongso dan Faye adalah sepupu dari keluarga ibunya Toki, sedangkan Totto adalah sepupu dari keluarga ayahnya. Aku tidak tahu ini dinamakan apa… cousin-in-law?”
“Jadi secara tidak langsung mereka adalah keluarga?” tanya Eunhyuk(tumben ini anak otaknya konek…).
“Yup~,” sahut Louis tersenyum lebar.
“Tapi tadi kulihat kalian sepertinya bingung dengan interaksi antara Yongso dan Faye. Eunhyuk-ssi, kau tidak perlu cemas mengenai hubunganku dengan Yongso karena hubungan kami hanya sebatas kakak-adik. Tapi kau perlu berhati-hati terhadap Faye…” kata Totto, “Kau harus waspada terhadapnya karena tidak ada yang tahu apa yang dipikirkan dan diinginkan olehnya. Singkatnya Faye itu agak aneh.”
“Jadi ada kemungkinan kalau Faye akan merebut Yongso dari Eunhyuk hyung,” kata Kyuhyun yang sama sekali tidak membantu untuk melegakan hati Eunhyuk yang sedang gundah karena dari tadi dicuekkin melulu sama Yongso tercinta.
“Aku hanya memperingatkan kalian. Karena begitu-begitu dia termasuk ilmuwan jenius. Dia juga penulis cerita Lost Children selain aku, Louis, dan Toki. Dia yang menulis cerita itu secara mendetail terutama di bagian kriminalitasnya karena itu spesialisasinya. Faye bisa saja melakukan sesuatu dari ide gilanya itu agar kalian putus…” jelas Totto.
“Sepertinya Eunhyuk hyung harus berhati-hati karena mendapatkan rival yang sangat kuat dan berbahaya,” kata Henry.
“Louis hyung, kalau kami tidak berwaspada apa yang akan terjadi?” tanya Zhou Mi.
“Yah~ kalian akan mencium tanah…” jawab Louis dengan santai.

+             +             +

Beberapa jam kemudian hujan badai tersebut reda. Di dalam gua yang gelap itu Hankyung telah terbangun lagi. Toki yang ada dalam dekapannya masih tertidur pulas. Arthur juga tidur di dekatnya. Kemudian Hankyung melihat jam di layar ponselnya.
’01.15… Sudah enam jam berlalu sejak pencarian Toki…’ kata Hankyung dalam hati, ‘Ada sepuluh missed calls dan lima pesan masuk… Dari Heechul, Heechul, Zhou Mi, Siwon, dan… Louis?’

Oi! Aku tahu kau pasti sudah menemukan Toki. Cepatlah kembali begitu hujan sudah reda. Aku akan menunggu di tempatnya Toki —Louis

Bagaimana dia bisa tahu?’ batinnya sweatdropped,lebih baik aku membawa Toki kembali sekarang.
Lalu Hankyung membangunkan anjing Siberian Husky itu dan memakaikan jaketnya kepada Toki. Ia menggendong Toki di punggungnya dan berjalan kembali ke hotel dengan tuntunan dari Arthur yang mencarikan jalan pulang. Hankyung hanya menemui sebuah kesulitan, yaitu nafas Toki yang pendek itu menggelitiki lehernya. Ternyata jalan pulang lebih cepat dan lebih singkat.

+             +             +

Louis menunggu di depan pintu cottage-nya Toki sambil mendengarkan musik dari iPod-nya. Dia yakin kalau Hankyung akan kembali begitu hujan sudah reda. Toh Hankyung itu tidak buta arah seperti Toki ini. Selama menunggu Louis banyak berpikir. Ia mengkhawatirkan reaksi kedua orang yang menjadi sahabatnya itu.
Beberapa hari yang lalu Louis mendengar keluhan manajer Ilsan mengenai sikap Toki yang terus saja berakting walau di depan manajernya sendiri dan juga sikap anehnya terhadap ‘partner’ modelnya, yaitu Hankyung saat pemotretan di Cina beberapa waktu yang lalu. Setelah ia pikirkan kembali, Louis barulah ingat kalau Toki tidak tahu tentang Hankyung dari lingkaran pertemanannya karena kecelakaan tahun lalu. Tidak heran, waktu itu Toki tampak bingung ketika dirinya(Louis) bertingkah akrab dengan Hankyung. Louis memang tipe orang yang ramah kepada siapapun akan tetapi dia tidak akan bersikap akrab atau SKSD terkecuali kepada orang yang sudah dikenalnya selama lebih dari sebulan atau orang-orang yang menjadi temannya.
Lebih mengherankannya lagi Yongso tidak berkomentar apapun ketika melihat Louis dan Hankyung yang terlihat akrab seakan-akan dia sudah mengetahui hubungan keduanya sejak awal. Padahal Louis tidak pernah cerita apapun kepada Yongso soal kuliahnya di Cina ataupun soal kehidupan sosialnya. Yang tahu mungkin hanya Totto dan Toki.
Louis juga terkejut ketika pertama kali bertemu dengan Eunhyuk dan member Super Junior yang lain. Ketika ia melihat Eunhyuk, Leeteuk, dan Kyuhyun—ia kembali dibuat bernostalgia dengan malam itu ketika dia dihubungi oleh Rain Bi yang mengabarkan berita buruk.
‘Salah satu atau dua dari mereka pernah menerima donor darah dari dia…’ batin Louis, ‘padahal kuharap mereka tidak terlibat dalam kehidupan Toki tapi ternyata Tuhan merencanakan sesuatu yang lain… Apakah aku harus memberitahu Toki? Tapi Totto ataupun Ilsan senpai tidak berniat untuk melakukannya…’
Selama Louis sibuk berdebat dengan hati nuraninya, dia tidak menyadari serangan dari depan yang diluncurkan oleh makhluk berwarna hitam hingga ia terjungkal.
“Ittai…” erang Louis, “What the…” Matanya tertutup rapat karena refleks.
“Guk!”
“Guk?”ujarnya segera membuka mata. Di depan mukanya Arthur memandanginya dengan mata birunya yang besar. “Arthur! Kalau begitu…” serunya. Matanya mencari-cari orang yang ditunggunya.
“Sudah puas bermimpinya?” tanya Hankyung sarkatis.
“Geng-geng! Lalu Toki-nya?” tanya Louis.
Hankyung berbalik dan memperlihatkan Toki yang masih tertidur nemplok di punggungnya. Louis tertawa kecil dan menghapus segala kekhawatiran di dalam dirinya tadi. Mereka segera masuk ke dalam cottage dan membaringkan Toki di atas tempat tidur. Louis menyuruh Hankyung untuk berbaring sementara ia menangani putri tidur yang dari tadi sama sekali tidak bergerak ataupun bersuara.

+             +             +

Di cottage tempat Yongso dan Hyesun, si sulung dan si bungsu yang tertidur karena lelah menunggu kabar akhirnya mendapat kabar juga dengan datangnya SMS dari The Mischieveous Louis.
“Eonni, ponselnya bunyi tuh…” kata Hyesun yang masih mengantuk dan setengah tidur.
“Aish, paling itu dari eomma…” sahut Yongso tetap tidur.
“Tapi dari ringtone-nya itu bukan dari eomma…” kata Hyesun lagi.
Dengan malasnya Yongso melihat ponselnya. Matanya yang lengket setengah terbuka karena terlalu mengantuk.

Report! Toki-chan dan Hankyung sudah kembali lagi! Tapi kunjungannya nanti pagi saja ya~ Soalnya macannya masih tidur =_=”. Tolong beritahu yang lain ya —Louis

“Oohh…” ucap Yongso lalu kembali tertidur. Tidak lama kemudian ia sudah melek dan bangun lagi. “Toki sudah kembali lagi!?” jeritnya.
“Eonni berisik… Ini masih malam tahu…” geram Hyesun.
“Oh, miyan…” ucap Yongso pelan. Kemudian ia segera menghubungi dan memberitahu yang lain sesuai dengan permintaan Louis.
Yongso menikmatinya ketika ia mendengarkan reaksi dari Heechul karena saat itu hanya dia yang masih bangun.
“Oh~! Tukang masak dan rivalku kembali untukku!” kata Heechul. Dasar narsis…
Setelah selesai memberitahu orang-orang yang terlibat, Yongso kembali tidur dengan mimpi indah karena dirinya sudah merasa lega. Tapi masih ada masalah lain untuknya. Ia hampir melupakan amarahnya terhadap pacarnya sendiri. Sepertinya sesekali Yongso harus memberinya pelajaran. Kecil-kecil begini tapi dirinya ‘kan sabuk hitam. Kecil-kecil cabe rawit nih.

+             +             +

Jam setengah 7 pagi barulah Toki si tukang tidur turun dari langit ke sembilan. Ketika ia membuka matanya dia sudah berada di atas tempat tidur yang empuk dan nyaman. Ia melihat kedua tangan dan kakinya dibalut perban hingga terlihat seperti mummy atau zombie.
Ia mendengar suara Louis dari ruangan sebelah, “Aah!! Arthur, jangan lari kemana-mana!! Aku harus mengeringkanmu!!” Dia memang selalu berisik.
Toki pun turun dari tempat tidurnya karena tidak tahan lagi dengan suara Louis yang berisik. Ia berjalan menuju tempat dimana si pemilik suara berisik itu berada. Di sana ada Louis yang sedang mengejar Arthur yang berlari-lari dengan bulu yang basah dan Hankyung yang duduk di sofa. Sambil mengangkat kaki kanannya di jalur pengejaran Louis, Toki menghantam pemuda tersebut dengan kakinya sambil melakukan tendangan cangkul yang tidak memakai  tenaga. Louis terkapar di atas lantai dengan kepala benjol.
Arthur, sit down,” perintah Toki dan Arthur langsung duduk manis.
“Toki?” panggil Hankyung.
What!?” seru Toki dengan galaknya menoleh dan melotot ke arah Hankyung.
Hankyung terdiam mematung ketika melihat wajah Toki. Gadis itu heran ketika memperhatikan reaksi Hankyung yang tidak biasa.
“Toki-chan, mata kirimu…” kata Louis memberitahu.
Toki barulah ingat kalau contact lens di mata kirinya hilang dan warna matanya yang berbeda akan ketahuan. Ia segera menutupi mata kirinya dan pelan-pelan berjalan mundur dengan posisi defensif. Ia takut dengan apa yang selanjutnya akan terjadi. Bukan keinginannya untuk memiliki warna mata yang berbeda sebelah-sebelah.
‘Dia pasti akan menyebutku monster seperti yang lain…’ kata Toki dalam hati yang sangat ketakutan, ‘dia pasti akan memandangku dengan tatapan seperti mereka… tatapan seolah-olah aku ini seekor monster yang menjijikan…’ Dalam hitungan detik ia berlari ke arah kamar mandi dan mengunci dirinya di dalam sana.
“Toki!” seru Hankyung yang mau mengejar Toki—tapi dihentikan oleh Louis.
“Hentikan, Han Geng,” cegah Louis, “err, ada sesuatu yang ingin kuberitahukan padamu…”
“Padaku?” tanya Hankyung penasaran, “Louis, kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku ‘kan?”
No, I mean yes…” jawab Louis untuk pertama kalinya terlihat gugup.
“Katakan Louis,” perintah Hankyung tidak sabaran.
Louis menghela nafas. “Sebenarnya ini bukan rahasia—hanya saja karena masa lalu—hal ini menjadi rahasia,” katanya.
“Langsung saja ke intinya, Louis.”
“As you, one of the fans knew about it… Toki adalah cewek blasteran Jepang-Inggris, betul?” tanya Louis. Dan Hankyung mengangguk. “Wajahnya terlihat bule Asia, warna matanya azu—bukan, tapi alice blue. Tapi Toki mempunyai dua warna mata yang berbeda. Dan karena warna matanya yang berbeda—Toki sering mendapatkan diskriminasi waktu masih kecil. Teman-teman sekolahnya akan menyebutnya ‘monster, anak monster’ atau ‘siluman’, dan sering mengerjai dia. Yah, bullying..” jelas Louis walau terlihat biasa-biasa saja tapi matanya terlihat sedih. “Setelah hal itu dia selalu menyembunyikannya dengan contact lens.”
“D, dia pernah mengalami hal seperti itu?” tanya Hankyung setengah tidak percaya.
“Tidak disangka ‘kan? Dia pun manusia biasa seperti yang lainnya walaupun agak sedikit gila,” kata Louis, “Hankyung, kau yang harus melakukannya. Bicara dengannya dan peluk dia.”
“Mwo? Peluk? Tidak ada pilihan lain?” tanya Hankyung.
“Kalau tidak nanti dia jadi anak hilang lagi…” jawab Louis sambil mengutak-atik kunci kamar mandi seperti seorang maling. Mungkin kalau profesinya bukan sebagai musisi saat ini dia pasti sudah menjadi maling kelas dunia.
Cklek! Kunci pintunya sudah terbuka lagi. Louis tersenyum puas dan langsung mebuka pintu kamar mandi tersebut. Di depan pintu ada Toki yang duduk meringkuk di atas lantai seperti bola dan dengan tubuh bergemetar.
Louis menyuruh Hankyung hanya dengan sedikit gerakan kepalanya. Hankyung menarik nafas yang panjang dan menghembuskannya kembali lalu dia berjalan mendekati Toki. Louis pun pergi keluar sambil membawa Arthur jalan-jalan sebelum membawa anjing itu ke Pets Service. Kini hanya tinggal mereka berdua. Suasananya sudah terasa canggung.
Hankyung bingung dengan apa yang harus ia lakukan untuk membuat Toki lepas dari ketakutannya saat ini. “Toki,” panggilnya.
Go away…” kata Toki dengan suara yang parau dan serak.
“Jangan seperti ini…” kata Hankyung.
“Aku tidak ingin dipanggil monster lagi—kumohon tinggalkan aku sendiri,” isak Toki sambil menangis.
Mendengar permintaannya Toki—Hankyung berjongkok di belakang gadis itu sambil menghela nafas lagi(life is so tiring, huh?). “Toki, lihat aku,” perintahnya pelan. Tapi dia harus memaksa Toki untuk berbalik dan menatapnya karena gadis itu tidak mau mendengarkan perintahnya. “Dengar, aku tidak akan memanggilmu monster, kau terlalu baik untuk dipanggil seperti itu… Kau patut mendapatkan yang lebih baik…”
“… kau tidak takut? Kau tidak membencinya?” tanya Toki.
“Untuk apa takut dan mata seindah ini?” balas Hankyung sambil mengusap air mata Toki dengan ibu jarinya(cieee~, prikitiw~). “Tidak akan ada yang membencimu, mereka hanya iri dengan matamu…”
“Kau menyukainya?” tanya Toki lagi.
“Ya, aku sangat menyukainya,” jawab Hankyung memberikan sebuah senyuman yang menghapus perasaan takutnya Toki. Dan kata-katanya seakan-akan sebuah mantera yang mampu membuat gadis tersebut kembali tenang.

Jumat, 13 Mei 2011

The Tale of Fairytale (Part VI)

Chapter 06: Drink Expert, Missing or Lost?
Malam hari sepulang dari laut menyaksikan sunset bersama-sama Yongso, Toki, dan seluruh member Super Junior kembali ke resort hotel yang mereka tempati. Di hotel mereka berpapasan dengan manajer Ilsan yang tampaknya sedang mencari-cari Toki. Benar saja, Toki langsung dimarahi karena dia tidak ikut rapat yang dilakukan tadi siang. Tapi gadis itu hanya mencuekkannya karena ia sudah tahu isi rapat tersebut. Dia akan menjadi salah satu pelatih.
And who’s going to be trained by me?” tanya Toki setelah mendengarkan ceramah panjang dari manajernya dan menyuruh Yongso dan para member Suju untuk pergi duluan tanpanya.
The boys…” jawab Ilsan.
Sure, how many of them?” tanya Toki lagi.
Fourteen… five from J-Tune, three from JYP, and six from JYP’s sister, the Cube,” jawab Ilsan.
Okay, I’ll get rid of them at eight o’clock in the morning. And no buts,” kata Toki.
“Yaa, jangan lupa dengan lirik lagu berikutnya!” seru Ilsan kembali siap untuk menceramahi Toki. Tapi melihat ekspresi wajah gadis itu yang blank dan air mukanya yang pucat, ia hanya menggerutu, “Aish, anak ini… Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat. Mukamu sudah pucat begitu…”
Yessire~,” sahut Toki dengan malas. “Come on, Arthur, Chain, go… Sleep tight, Puffing Tom~!
“Yaa! Jangan memanggilku dengan nama itu!” protes Ilsan. Tapi Toki sudah berlari bersama kedua anjingnya kembali ke cottage-nya.

+             +             +

Keesokan harinya jam 8 pagi, benar saja Toki sudah ada di studio tari yang ada di fitness centre. Kedua anjingnya telah ia titipkan kepada Pets Service. Ia menunggu para trainee sambil melihat-lihat data profil mereka. Tidak lama kemudian ia menerima SMS dari Yongso.

Toki-ah, kau ada di mana? Kemarin kau tidak ikut makan juga… Apakah kau baik-baik saja? Setelah makan siang kita mau ke Gunung Halla, kau ikut ‘kan? —Yongso

I’m sooo soooooorry~! Ilsan-baka menyuruhku untuk istirahat kemarin dan sebagai anak baik aku harus menurut x9 Aku akan berusaha untuk menyelesaikan training sebelum makan siang! xO Oh ya, tadi aku bertemu dengan Kihyun di kolam renang outdoor, katanya dia ingin memberikan selamat ^^ —Toki

Aish, kau ini memang mulut ember! Di sini aku berkali-kali disindir oleh para cowok ini! —Yongso

Muahahahaha… para pengikutku itu~! xD Sepertinya mau hujan deh, sebaiknya kita ke gunung dua hari terakhir saja, setelah ballroom party, okay —Toki

Kau benar… Kau mengingatkanku dengan hal yang kubenci… Kurasa Lorry ajeossi akan muncul dengan… hal gilanya —Yongso

I never get bored by uncle’s actions. xD He’s my favourite uncle~! —Toki

Weird as you… Toki-ah, nanti kita berkumpul di tempatmu, oke? Hyesun masih ada di cottage! —Yongso

Bilang saja kau ingin berduaan dengan Eunhyukkie >.> Tapi aku tidak tanggung ya kalau nanti malah dimarahi. Dan hati-hati terhadap paparazzi, mereka haus akan berita skandal -_-“ —Toki

Aku tahu. Yaa, dimana dua peliharaanmu itu? —Yongso

Pets Service ^^ Jaa ne ^^ —Toki

Setelah mengakhiri SMS tersebut ternyata para trainee yang harus ia tangani sudah datang. Staf yang menangani pelatihan etika yang mengantarkan mereka. Toki memasang senyum selebnya dan berdiri dengan high and mighty.
“Toki-ssi, mereka para trainee yang harus kau tangani,” kata staf tersebut.
“Aa, aku tahu… Aku sudah membaca profil mereka,” sahut Toki.
“Kalau begitu aku serahkan semuanya kepadamu,” kata staf itu lalu pergi begitu saja meninggalkan seorang cewek bersama empat belas orang cowok.
Toki memandang ke arah barisan empat belas orang cowok yang akan menjadi calon korbannya. Ia mengabsen mereka satu persatu dan menanyakan beberapa pertanyaan. Lalu ia memandangi mereka dari ujung kepala hingga ujung kaki(memangnya mau makan mereka? Dasar mata jelalatan melulu).
Alright~, perkenalkan, namaku Toki dan usiaku… hm, kalau di sini mungkin dihitungnya 20 tahun ya? Aku akan mengajari olah vokal, tari, dan akting. Di antara kalian pasti ada yang lebih muda dariku dan ada juga yang lebih tua, tapi aku tidak akan segan-segan terhadap kalian, mengerti?”
“Ya,” jawab mereka.
Lalu sambil tersenyum Toki berkata, “Good~, kalau begitu mari kita mulai~.” Senyum tersebut berubah menjadi senyum iblis. (o_O)

+             +             +

Sementara itu di kolam renang outdoor, Yongso dan Eunhyuk menemui Kihyun di sana. Dokter muda satu itu sedang bersantai di atas kursi pantai. Ketika ia melihat Yongso(dia sih bodo amat sama Eunhyuk…) ia langsung menjerit seperti fans melihat idolanya.
“Kyaaaa~! Yongso eonni~!” jeritnya berlari memeluk Yongso.
“Annyeong, Kihyunnie,” sapa Yongso, “Eunhyuk oppa, kau sudah pernah bertemu dengan Kihyun saat syuting Lost Children ‘kan? Dia Han Kihyun, mantan model.”
“Annyeonghaseyo,” sapa Eunhyuk kepada Kihyun.
“Annyeonghaseyo… Jadi diakah cowok yang dimaksud oleh Toki sunbae yang jadian dengan Yongso eonni!?” seru Kihyun.
Dengan wajah memerah dan malu-malu Yongso menjawab, “I, iya…”
“Aku tidak percaya! Aku tidak bisa terima!” seru Kihyun lagi.
“Mworagoyo?” tanya Eunhyuk bingung begitu juga dengan Yongso.
“Aku tidak terima! Yongso eonni terlalu baik untuk Eunhyuk-ssi!”
Eunhyuk dan Yongso terdiam, memproses apa yang telah dikatakan oleh Kihyun ke otak mereka. Apakah Kihyun mengidap sister complex terhadap Yongso? Mungkin Eunhyuk tidak perlu khawatir dengan para cowok di luar, tapi ia harus waspada dengan cewek yang ada di depannya saat ini. Kihyun bisa saja memisahkan Yongso darinya. Kedatangan musuh baru yang tidak disangka-sangka.
“Omou… sejak kapan kau jadi ketularan Toki?” sindir Yongso.
“Kalau Toki sunbae beda cerita… Eunhyuk-ssi, aku menantangmu bertanding, kalau kau kalah kau harus pisah dengan Yongso eonni!” tantang Kihyun.
Dia serius…’ batin Eunhyuk. Ia sudah memutuskan, “Baiklah, aku terima tantanganmu, Kihyun-ssi.”
“Oppa! Kihyunni! Hentikan semua hal ini!” protes Yongso.

+             +             +

Di sinilah mereka, jam 12 siang di Beach Restaurant and Lounge. Eunhyuk, Yongso, Kihyun, dan empat belas member Super Junior yang lain mengalami situasi tegang ketika jam makan siang. Eunhyuk dam Kihyun duduk saling berhadapan dan saling melotot. Di atas meja ada tiga botol soju dan dua buah gelas kecil untuk minum soju. Yup, mereka akan bertanding dengan cara adu minum di siang bolong begini. Bukannya khawatir atau apa si Heechul dan si Kangin malah menyoraki dan memberi semangat kepada dua peserta. Mereka berdua sama sekali tidak membantu.
Dua botol sudah habis akan tetapi masih belum ada yang tumbang salah satu dari kedua orang pemabuk di siang bolong ini. Botol ketiga habis dan masih akan menambah botol keempat. Yongso semakin khawatir dan panik. Ketika ia sedang panik-paniknya seseorang datang dan menjitak kepala kedua pemabuk ini.

Sepuluh menit sebelumnya Toki yang masih ada di studio tari baru saja akan mengakhiri latihan para trainee-nya. Tidak lama kemudian ponselnya berkelap-kelip dengan suara aneh sebagai ringtone-nya. Para trainee-nya saja sampai kaget ketika mendengar suara ‘Komandan memerintahkan pasukannya untuk berbaris’ dan ‘Haro, haro’. Toki menyudahi latihan tersebut lalu mebaca pesan yang masuk.

S.O.S! Toki-ah, keadaan gawat! Oppa dan Kihyunnie! —Yongso

What the hell?” gumam Toki.
“Toki noona, ada apa?” tanya salah satu trainee yang polos, Park Sanghyun dari J-Tune.
Hm? Oh, nothing, Sanghyun-ah. Go have lunch with your friends,” jawab Toki sambil tersenyum tipis. “We will meet again tomorrow, okay?
Oo, thank you for you hardworking,” kata Sanghyun, “Noona, can you teach me some dance move and vocal later?
Sure, I’ll teach you after lunch. Is it alright for you?
Really, thank you! See you later, Toki noona!” seru Sanghyun lalu pergi bersama teman-temannya.
Sebelum Toki dapat mengatakan apapun lagi tiba-tiba Hankyung dan Henry masuk. Hankyung kembali memanggul Toki sementara Henry membawakan barang-barang milik gadis itu. Lalu keduanya berlari membawa Toki.
Wait!! What are you guys doing!?” seru Toki sambil meronta-ronta.
Henry lalu menjelaskan masalah perkara serta situasi dan kondisinya. Toki hanya bisa menghela nafas.
‘Kapan aku mempunyai hari yang tenang?’ desahnya dalam hati.

Sesampai di lokasi pertandingan konyol tersebut Hankyung langsung menurunkan Toki. Dan gadis itu berjalan sambil menghentakan kakinya karena kesal ke arah dua pemabuk itu. Sambil membunyikan tulang-tulang kedua tangannya, Toki siap untuk menghajar kedua bocah itu. Setelah berada di dekat mereka Toki menjitak kepala kedua pemabuk tersebut bersamaan.
“Yaa! Apa yang kalian lakukan di siang bolong begini!?” bentaknya sambil berkacak pinggang seperti seorang eomma. “Geez, these little brats…” gumamnya.
“Sunbae, menyingkirlah, sedikit lagi aku pasti bisa menang,” kata Kihyun sudah setengah mabuk.
“Aku… tidak akan… melepaskan… Yongso-ah,” kata Eunhyuk juga sama mabuknya.
“Bereskan meja ini,” perintah Toki terhadap pelayan di sana yang langsung melakukan apa yang disuruh. “Aku akan ikut dalam permainan kalian, tapi bila kalian sudah tumbang hanya dengan satu gelas, kalian yang kalah,” katanya.
“Toki, kau dilarang minum alkohol oleh kakekmu!” protes Yongso malah jadi semakin khawatir.
“Asalkan kau tidak melaporkan hal ini, Yongso-ah. Semua akan baik-baik saja. Tidak ada yang bisa membuatku mabuk,” kata Toki sambil berjalan ke bar. “Beri aku Gin, Vodka, Sherry, Vermouth, Royal Mint-Chocolate, Aurum, Shan Lotus, Ouzo, Zen, Qi White, Honjouzou-shu, Junmai-shu, Nigorizake, Namazake, Genshu, Koshu, Taruzake, dan Amazake. Aku akan membuat cocktail,” pintanya.
“Baik, agassi,” kata bartender di sana lalu pergi mengambil pesanannya Toki.
“Apa yang akan dia lakukan?” tanya Hankyung kepada Yongso.
“A, aku juga tidak tahu. Aku tidak pernah melihat Toki minum alkohol sebelumnya,” jawab Yongso bertambah khawatir melihat Toki yang sedang mencampurkan seluruh minuman keras tersebut menjadi satu.
Lalu Toki meletakkan tiga gelas di atas meja. Gelas berisi minuman yang sama. Walaupun sekilas minuman itu tampak normal, tapi tidak tahu deh rasanya kayak bagaimana. Kangin sempat mencoba mencium bau minuman tersebut tapi ia hampir mati hanya dengan mencium baunya saja.
“Toki-ah, i, ini apa?” tanya Donghae sambil menyentuh-nyentuh gelasnya, berwaspada takut-takut minuman tersebut meledak. (wkwkwkwk)
“N-U-K,” jawab Toki.
“NUK???” kata Kangin bingung setelah bangkit dari mati surinya. Untung dia tidak jadi menyeberangi sungai Styx. (-_-)
“Nanti akan kujelaskan singkatannya,” kata Toki, “Yongso-ah, the ready go…”
“Uh, junbi? gaja!”
Ketiga peserta langsung meminum cocktail racun tersebut. Para cowok menyoraki ketiganya. Kihyun yang habis duluan, lalu Eunhyuk, barulah Toki. Lima detik kemudian Eunhyuk dan Kihyun sudah tumbang lagi karena mabuk berat. Sedangkan Toki masih segar bugar dan tetap seperti Toki yang biasanya yang cuek dan tenang, bahkan dia menambah segelas lagi.
Sambil berdecak Toki berkata, “Ck, ck… baru satu gelas NUK saja sudah tumbang seperti ditabrak gorila.”
“Tapi kau tidak minum sebelumnya seperti mereka,” sela Leeteuk.
“Teukie oppa, kau coba saja minum ini satu gelas saja,” kata Toki sambil menuangkan segelas NUK dan disodorkannya kepada Leeteuk.
“Tidak beracun ‘kan?” tanya Leeteuk ragu-ragu untuk meminumnya.
“Nope, delapan belas bahan campurannya asli kok,” jawab Toki tersenyum manis dengan aura iblis di sekitarnya.
Dalam sekali teguk Leeteuk menghabiskan minuman NUK ini. Dan yang di belakang menyorakinya. Sama seperti kedua korban sebelumnya, dalam waktu lima detik Leeteuk langsung tumbang seperti diseruduk oleh badak. Dia juga sudah mabuk berat.
“Jadii~ NUK itu minuman apa?” tanya Donghae makin penasaran.
“NUK itu singkatan dari Nuclear Ultimate Killer. Waktu kecil aku sering melihat kakek-kakekku meminum ini lalu aku diajari oleh Presdir Lorry dan sepupuku cara membuatnya. Ah, tapi sepupuku yang kumaksud bukanlah Yongso-ah,” jelas Toki tersenyum nyengir, “Yongso terlalu polos untuk minum minuman seperti itu, bahkan dia tidak pernah tahu NUK itu apa.”
“Lalu kenapa kau tidak berakhir seperti mereka?” tanya Kyuhyun.
“Entahlah, aku tidak pernah mabuk walaupun aku meminum Vodka atau Gin sebanyak apapun. Kalaupun aku pernah mabuk mungkin yang pernah melihatnya hanya Louis dan Torii(Totto),” jawab Toki.
“Lalu apa yang akn kita lakukan kepada tiga orang ini?” tanya Yesung.
“Bawa saja mereka ke tempatku. Kalian bisa dimarahi oleh manajer kalian bila ketahuan minum-minum di siang bolong begini. Aku akan panggil Jeonghoonie,” kata Toki sudah pegang ponselnya lagi.
“Kau benar-benar berpikiran jauh, Toki-ah. Pantas saja tidak pernah ada skandal tidak enak di sekitarmu,” kata Yongso dengan maksud menyindir.
Yeah, yeah, awal dari kehancuran adalah kecerobohan,” sahut Toki. Lalu ia memberikan keycard tempatnya kepada Yongso. “Kalian pergi duluan, aku masih harus menemui manajer dan melanjutkan latihan. Dan… membereskan bukti ini,” katanya lagi sambil menunjuk ke arah bekas minuman.
“Baiklah, tapi cepat menyusul ya,” ujar Yongso.
“Di tempatku ada teh herbal dan obat. Aspirin ada di wastafel kamar mandi dengan obat lainnya,” jelas Toki.
“Berapa dosis yang diperlukan, dok?” tanya Yongso dengan maksud menyindir lagi.
“Dua tablet,” jawab Toki tidak terpengaruhi sama sekali.
Yes ma’am,” sahut Yongso.
Lalu mereka membawa tiga tubuh yang mabuk dan tertidur itu ke tempatnya Toki. Untung saja di daerah Toki itu sepi dan tidak ada wartawan. Ketika mereka sudah masuk ke dalam mereka langsung menempatkan Leeteuk dan Eunhyuk di kamar yang tidak terpakai dan Kihyun di kamar yang tampaknya dipakai oleh Toki. Keadaan ruangan tersebut sudah seperti apartemen sendiri. Dengan kertas berserakan dan laptop menyala di atas meja. Ponselnya pun masih battery charging, ponsel touchscreen berwarna hitam yang jarang diperlihatkan.
“Kalau ponsel kerjanya ada di sini lalu kenapa tadi yang dia pegang malah ponsel yang warna putih?” gumam Yongso sambil mengutak-atik ponsel orang. “Ini nomor pribadinya…”
Tidak lama kemudian Kim Jeonghoon datang untuk menjemput Kihyun. Gadis itu sudah sadar dan sedang dalam mood terburuknya begitu ingat kalau ia kalah dari sunbae-nya dan gagal memisahkan Eunhyuk dengan Yongso eonni-nya.
“Di mana Toki?” tanya Jeonghoon.
Yongso menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Dia belum kembali, katanya sih mau menemui Ilsan-ssi dan menyelesaikan latihannya.”
“Menemui Ilsan-ssi? Tapi aku tadi baru saja bersama Ilsan-ssi dan aku sama sekali tidak melihatnya,” kata Jeonghoon.
“Benarkah?” tanya Yongso tidak percaya.
“Mungkin dia menyelesaikan latihannya dahulu baru menemui Ilsan hyung. Aku akan menghubunginya nanti. Terima kasih sudah menjaga Kihyunnie,” kata Jeonghoon sambil tersenyum ramah seperti seorang pangeran. Setelah memberi salam perpisahan ia dan Kihyun pergi kembali ke kamar hotel.
Yongso lalu menelepon ke ponselnya Toki akan tetapi tidak diangkat. Lalu ia mengirim pesan tapi tidak dibalas juga.
“Dia seperti orang yang tidak punya ponsel saja,” gerutu Yongso.
Di luar hujan sudah mulai turun tapi Toki belum datang juga. Petir menggelegar menambah suram keadaan cuaca hari ini. Para cowok telah menyerbu snack simpanannya Toki tanpa tahu resiko apa yang menunggu mereka nanti. Yongso telah membuatkan teh herbal dan menyiapkan aspirin untuk dua orang yang dari tadi memegang kepala mereka dan mengerang kesakitan karena efek dari mabuk berat.
“Aku tidak mau minum lagi,” kata Eunhyuk dengan suara seperti kodok bangkong. Ia meminum teh buatan Yongso untuk meredakan mabuknya yang masih tersisa.
“Lagipula siapa suruh kau meladeni tantangannya Kihyunnie?” sahut Yongso sambil menjewer kupingnya Eunhyuk. “Kau tahu, kau telah membuatku khawatir dan panik setengah mati. Apa yang kau lakukan sebenarnya? Kau ini bodoh ya? Aku tidak suka kalau kau mabuk seperti ini!”
“Mianhaeyo…” gumam Eunhyuk.
Yongso tidak berkata apa-apa dan hanya keluar dari kamar. Eunhyuk mengikutinya di belakang. Sedangkan para maknae Ryeowook, Kyuhyun, dan Henry sedang asyik mengutak-atik laptop di atas meja. Mereka melihat seluruh game yang ada di laptop tersebut.
“Ooh! Ternyata Toki pun main Starcraft!” kata Kyuhyun si maniak game.
“Beritahu aku username miliknya!” seru Heechul mengeluarkan ponselnya untuk mencatat info kecil tersebut.
“Tunggu sebentar… Abyss of Time…” jawab Kyuhyun sambil melihat layar laptop. “Abyss of Time? Sepertinya aku pernah mendengarnya…”
“Kalau sekedar Starcraft aku juga punya, Toki-ah memaksaku untuk memainkannya,” sela Yongso.
“Apa nama username milikmu?” tanya Henry.
“Erza The Slayer, tapi aku jarang memainkannya,” jawab Yongso.
“Abyss of Time dan Erza The Slayer?” ujar Donghae.
“Seperti pernah mendengarnya ‘kan?” tanya Kyuhyun, “Sungmin hyung, Eunhyuk hyung, dan Hankyung hyung juga pasti merasa pernah mendengarnya…”
“Toki itu sebenarnya… maniak game,” ujar Yongso menguak sebuah fakta yang tidak diketahui oleh para fansnya Toki. (Yongso memegang banyak rahasia memalukannya Toki… -_-“)
“MWO!?”
“Kalau kau datang berkunjung ke rumahnya, di rak dekat Tv-nya ada banyak sekali CD game. Lalu di tas pinggangnya yang selalu dia bawa pasti di dalamnya ada sebuah PSP atau Nintendo DS. Lalu di tas laptopnya pasti ada minimal lima CD game yang berbeda,” kata Yongso, “Sekitar dua minggu yang lalu aku dan Toki ke Cyber Café karena dia yang mengajakku jadi aku menurutinya. Kami melakukan battle dengan orang lain. Dia bisa terus ada di sana selama berjam-jam.”
“Kalian ke Cyber Café berduaan?” tanya Eunhyuk.
“Ya, untuk pertama kalinya aku menemukan lawan yang kuat, tapi untuk Toki lawan seperti itu kecil,” jawab Yongso.
“AH!! Sekarang aku ingat!!” seru Heechul, “Abyss of Time dan Erza The Slayer itu player yang sedang dibicarakan oleh para game netter!! Yah, Kyuhyun, mereka player yang telah mengalahkan kita waktu itu!”
“Oh! Pantas aku merasa pernah mendengarnya,” kata Kyuhyun.
“Aku melawan Erza The Slayer dan kau melawan Abyss of Time,” kata Heechul kepada Kyuhyun.
“Kami pernah melawan kalian?” tanya Yongso heran.
“Dua minggu yang lalu, kami ke Cyber Café lalu Donghae bilang dia melihat kalian di sana, tapi kami sedang sibuk melawan player yang kuat, tapi tidak kusangka kalau dua player itu adalah kalian,” jawab Heechul.
Ah, that Cinderella-something,” sahut Yongso, “Toki-ah, memang mengatakan kalau nama lawannya sepertinya familiar, tapi itu ternyata kalian?”
“Aish, kau tidak percaya?”
“Ani, aku hanya tidak menyangka kalian sepayah itu,” jawab Yongso. Kata-katanya langsung menusuk tepat di hati kedua pemuda yang telah dikalahkan oleh perempuan.
“YAA!! Song Yongso, aku menantangmu battle!!” seru Heechul yang harga dirinya terluka.
“Aku akan melawanmu kalau kau bisa mengalahkan Toki,” sahut Yongso tersenyum sinis, bukan lebih parah lagi, senyum sadis!!
“Kyuhyun, kau pernah melawan Toki, seberapa hebatkah dia?” tanya Heechul.
“Michin…” jawab Kyuhyun.
“Tapi dia sudah jarang main Starcraft lagi, kurasa dia ketularan game baru dari Louis,” sela Yongso, “Sejak Toki pulang dari Cina dia jadi maniak game, jadi kurasa dia memang ketularan Louis selama kuliah di Cina.”
“Tidak heran itu hobinya Louis,” kata Hankyung.

+             +             +

“Huaaaaaaatsyiiiii—m!!” bersin Louis tiba-tiba. Saat itu ia sedang menginspeksi laut di saat hujan bersama Totto dan Toki.
“Lou, kau sakit?” tanya Toki yang hujan-hujanan ramai-ramai bareng Totto dan Louis.
“Tidaak mungkin~ Seperti yang kalian tahu Louis Veiniebel adalah manusia anti penyakit,” kata Louis dengan bangganya.
“Fisik sih tidak, tapi penyakit idiotmu itu perlu disembuhkan,” ledek Totto tertawa.
“Tottooooooo~!!” jerit Louis seperti cewek.
“Kuharap saat rekaman tidak seperti ini,” desah Toki merasa lelah. “Hey, aku pergi sekarang ya? Yongso akan menggantungku dengan seribu pertanyaan bila aku tidak segera kembali.”
“Oke, Toki-chan~!” sahut Louis sambil menyiksa Totto.
Lalu Toki berjalan kembali ke cottage-nya. Tapi jalanan dari pantai ke daerah cottage lewat jalan biasa terlalu jauh sehingga ia memotong jalan melewati hutan di belakang hotel. Jalannya agak-agak sulit dilewati saat hujan lebat seperti ini, tapi Toki tetaplah Toki yang cuek saja dan mengambil jalan itu karena ingin cepat kembali ke ruangan yang hangat dan menikmati cocoa hangat.
Tapi ternyata ia malah salah mengambil jalan dan malah nyasar ke sebuah tempat dengan air terjun. Cewek ini bukannya panik atau apa tapi malah ambil foto air terjun tersebut dengan kamera digital yang selalu ia simpan di tas pinggang yang berfungsi sama dengan kantong ajaib milik Doraemon. Lalu ia mencari tempat yang cukup tinggi untuk melihat sekitarnya.
Okay, that stupid hotel is much more far than I thought,’ batinnya, ‘I must go back quickly before my limit surceases…
Inilah Toki yang selalu cuek, ketika akan ia tidak melihat batu berlumut dan sangat licin. Ia menginjak batu itu dan terpeleset. Untungnya kepalanya tidak terbentur tapi sebagai gantinya dia jatuh ke dalam arus air terjun dan terjun bebaslah seperti putri duyung yang terbawa arus air terjun. Kepalanya memang tidak terbentur tapi anggota badannya yang lain terbentur bebatuan ketika terbawa arus. Tapi setidaknya ia berhasil berenang ke daratan lagi.
Terjun dari air terjun memang menyenangkan tapi tidak tanpa persiapan batin dan konsentrasi yang cukup. Tempat yang indah ini jadi mendapat kata-kata kutukan dari Toki deh. Setelah puas gadis itu malah jatuh pingsan.
“Kou… tatsukete…” ucap Toki sebelum kegelapan datang dan mengambil kesadarannya.

+             +             +

Sementara itu kembali ke Cottage, Yongso sudah super-duper khawatir. Leeteuk yang sudah sadar lagi juga sama khawatirnya terhadap gadis yang telah seperti adik baginya. Keduanya mondar-mandir terus seperti setrikaan. Eunhyuk meminta kekasihnya untuk duduk, sedangkan Kangin dan Ryeowook harus ‘memaksa’ Leeteuk untuk duduk.
“Aaargh, aku tidak tahan lagi! Sebentar lagi matahari akan terbenam dan Toki masih belum kembali juga!” seru Yongso.
Triing~! Yongso langsung melihat ponselnya berharap-harap dari Toki.

Yongso-ssi, lihat Toki tidak? Anak itu tidak bisa kuhubungi —Ilsan

Dari tadi aku menunggu Toki di tempatnya tapi dia belum datang. Kurasa sudah 4-5 jam berlalu… —Yongso

Aneh, tadi setelah menemuiku dia pergi bersama Totto dan Louis ke laut. Tapi Totto dan Louis sudah kembali sejak satu setengah jam yang lalu. Kata mereka Toki sudah kemabli duluan sebelum mereka —Ilsan

Apa kata orang hotel? —Yongso

Tidak ada yang melihatnya bahkan kedua anjingnya masih ada di Pets Service. Setelah hujan agak reda kami akan mencarinya —Ilsan

Holy crap,” gumam Yongso.
“Yongso-ah, ada apa?” tanya Eunhyuk sambil merangkul gadis itu agar mendekat kepadanya. Ia menyadari ekspresi horror di wajah Yongso.
“Toki menghilang…” jawab Yongso.
“Menghilang!?” seru Leeteuk tiba-tiba menjadi ibu-ibu yang panik, “Uri Toki-ah menghilang!”
“Leeteuk hyung, tenanglah dahulu,” kata Sungmin sambil menahan Leeteuk.
“Apa maksudnya dengan menghilang?” tanya Kibum dengan ekspresi muka serius. Dia memang yang paling mudah seriusnya.
“Toki belum kembali sejak dia ke laut bersama Louis dan Totto oppa. Katanya Toki kembali duluan tapi dia belum sampai…” jawab Yongso, “kuharap dia baik-baik saja dan sedang berteduh di suatu tempat.”
“Kita harus segera mencarinya! Toki-ah~!” seru Leeteuk seperti ibu yang sedang kehilangan dan mencari-cari anaknya.
“Tidak perlu, para staf LME akan mencarinya…” kata Yongso, “Aku akan menemui Ilsan-ssi, kalian kembali ke cottage kalian saja. Aku tidak ingin kalian terlibat dan aku yakin Toki juga tidak ingin melibatkan kalian.”
“Yongso-ah…” ujar Eunhyuk penuh dengan perhatian kepada sweetheart-nya.
“Maaf, oppa. Dan aku mohon kepadamu jangan sampai mengundang perhatian wartawan,” kata Yongso terdengar serius.

Lalu mereka pergi keluar setelah hujan sudah reda. Yang terakhir keluar adalah Hankyung yang habis mematikan semua lampu cottage yang ditempati oleh Toki. Dia ditinggal sendirian oleh para member Super Junior yang lain dan Yongso sudah berlari ke hotel. Tapi ada untungnya juga dia keluar yang terakhir.
Di salah satu cottage yang ditempati oleh para member Super Junior, kelimabelas member sedang melakukan rapat darurat. Dengan ketuanya, eomma Leeteuk yang memimpin rapat tersebut. Mereka membicarakan tentang pencarian Toki walaupun sudah dilarang oleh Yang Mulia Yongso Agung (wkwkwk, ditakuti karena sabuk hitamnya ‘kah?).
“Hyung, kalau tidak salah kedua anjingnya Toki itu katanya pernah mendapatkan penghargaan ‘tracking’ dari kepolisian Amerika ‘kan? Kenapa tidak kita coba saja mencari Toki dengan bantuan kedua anjingnya?” usul Henry. Anak ini memang selalu mempunyai ide cemerlang yang jarang diutarakan.
“Tapi dari mana kita bisa mendapatkan baunya Toki, Henry-ah~?” tanya Heechul. Sebenarnya sih dia tidak mau pergi, tapi demi mendapatkan teman ributnya kembali Heechul rela ikut mencari dengan seluruh kemampuan yang ia miliki.
 Dengan senyum nyengir dari kuping ke kuping Hankyung menyela, “Tenang saja, aku mendapatkan baunya.” Ia memperlihatkan sebuah jaket hoodie tak berlengan dan knit hat untuk ukuran seorang wanita.
Heechul mengamati kedua barang yang dipegang oleh Hankyung dan pikirannya kembali ke peristiwa kemarin. Ia tahu kalau jaket tersebut kemarin dipakai oleh Toki, tapi herannya kenapa malah sekarang ada di tangan Hankyung? Dan CLICK! Tiba-tiba Heechul menjitak kepala Hankyung. “Yaa!! Kenapa kau bisa memilikinya!? Jangan katakan kau mencurinya tadi!” bentaknya.
Hankyung mengelus bagian yang dijitak tadi sambil mengaduh kesakitan. “Aish, aku tidak mencurinya, aku hanya meminjamnya sebentar!” balas Hankyung.
“Dasar mesum!!” seru Heechul malah berantem dengan Hankyung. Berantem juga tapi malah saling cubit-cubitan.
“Ini bisa dipakai…” kata Leeteuk. “Donghae, Henry, cepat ambil kedua anjingnya.”
“Tapi Leeteuk hyung, peluit anjingnya tidak ada,” kata Donghae.
“Donghae, tangkap!” seru Hankyung melemparkan sesuatu ke arah Donghae. Dia masih bergulat dengan Heechul sampai main perosot-perosotan celana segala. (-_-‘)
Donghae menangkap benda tersebut yang ternyata adalah peluit anjing kecil dan panjang berwarna silver. Lalu dia dan Henry bergegas pergi ke Pets Service untuk mengambil Arthur dan Chain.
Kangin lalu bertanya kepada Hankyung, “Hyung, kenapa kau tidak mengambil pakaian dalamnya saja?”
“Memangnya kau ingin aku ditangkap sebagai pencuri pakaian dalam?” balas Hankyung dengan wajah merengut.
“Hankyung hyung, kami tidak ikutan soal pencurian pakaian ya,” kata Shindong.
“Yaa! Bukankah aksi satu orang, dosa ditanggung bersama?” protes Hankyung.
“Yang betul aksi bersama, dosa ditanggung seorang,” kata Kyuhyun. Dia sudah kangen lagi dengan laptopnya Toki yang memiliki begitu banyak game di dalamnya.
“Kalian begitu kejam padaku…” ujar Hankyung yang lalu merajuk di pojokan ruangan (kayak tuyul aja…).
Siwon mencoba menghibur hyung-nya yang sedang merajuk seperti anak kecil. Yesung, Ryeowook, Kibum, dan Zhou Mi yang sejak tadi diam saja matanya tertuju pada sebuah benda mengkilap di atas lantai. Dan tanpa disengaja atau peringatan dari ketiga pemuda yang sedang kalem-kalemnya ini seorang Kim Heechul menginjak benda mengkilap tersebut dengan kakinya yang katanya lebih cocok memakai sepatu kaca daripada Cinderella yang asli. Cinderella gadungan itu menjerit kesakitan, melompat-lompat sambil memegangi kakinya yang menginjak benda mengkilap tersebut.
Zhou Mi memungut benda tersebut di lantai yang ternyata adalah sebuah cincin dari emas putih(sayang, bukan paku… hehehe…). Ia memperhatikan detail dari cincin yang menjadi masalah untuk Hee-rella dan ternyata ukurannya sangat kecil. Ryeowook juga ikut melihat cincin tersebut bersama dengan Kibum.
“Yaa!! Siapa yang meletakkan benda itu sembarangan!?” bentak Heechul marah-marah.
“Hankyung hyung, bukankah ini cincin milik hyung?” tanya Kibum.
“Tapi tadi aku sedang menggantungnya di kalung,” jawab Hankyng sambil menunjukkan kalungnya. Benar saja disitu tergantung cincin dengan desain yang sama. “Lagipula cincin itu terlalu kecil untuk jariku.”
“Benar juga… mungkin terjatuh dari jaket ini…” kata Ryeowook yang mengambil jaketnya Toki dan mengecek kantongnya, “sepertinya memang milik Toki…”
“Ayo kita pergi,” kata Leeteuk yang setelah sekian beribu tahun akhirnya kembali menjadi serius. Member Super Junior yang lain sampai dibuat jatuh cinta oleh sosok Park Jungsu ini.

+             +             +

Kelimabelas cowok itu bergerak bagaikan anggota polisi yang sedang mencari kriminal, tapi kali ini mereka mencari orang hilang. Arthur dan Chain langsung mencari-cari jejak bau tuannya di antara tanah dan udara yang lembap dan mengejutkannya ternyata udaranya menjadi dingin! Mereka pergi ke pantai yang tadi dikunjung oleh Trio Babo (Toki, Louis, Totto) karena Arthur dan Chain membawa mereka ke sana. Mereka berteriak-teriak memanggil Toki.
“Yaa, Toki! Keluarlah! Jangan bersembunyi lagi!” teriak Kim Heechul.
“Toki-ah~! Donghee(Shindong) hyung dan Sungmin hyung telah memakan snack cokelat milikmu! Keluarlah dan beri mereka pelajaran!” teriak Kim Ryeowook, tapi dia langsung dijitak oleh Shindong dan Sungmin.
“Toki~! Walaupun kadang kau menyeramkan tapi tidak seru bila tidak ada kau! Dimana kau Toki-ah~!?” teriak Eunhyuk dan Donghae yang menghadap ke arah laut.
“Hyung, di sana itu laut. Memangnya Toki itu putri duyung yang akan muncul dari laut kalau dipanggil?” kata Henry sweatdropped.
“Toki-ah, dimana kau?!” teriak Leeteuk.
Tiba-tiba ada suara langkah kaki mendekat. Entah kenapa para cowok itu malah pergi bersembunyi. Ternyata langkah kaki itu milik Yongso, Louis, dan Totto.
“Yaa, kalian keluarlah, dari tadi aku mendengar suara teriakan kalian,” kata Yongso kepada para member Suju yang bersembunyi.
Satu persatu bocah ‘dorky’ alias norak ini keluar dari tempat persembunyian mereka. Melihat Totto—Heechul langsung bersembunyi di belakang Hankyung. Yongso langsung menceramahi kelimabelas anak nakal yang tidak mendengarkan perintah ibunya.
“Kalian bisa kena masalah tahu! Bagaimana kalau terjadi sesuatu kepada kalian?!” bentak Yongso.
“Tapi kami mengkhawatirkan keadaan Toki…” kata Ryeowook memasang wajah manisnya dan langsung meredakan amarah Yongso. Good job, Ryeowook!
“Yongso-ah,” panggil Eunhyuk sambil menggenggam tangan Yongso, “bagaimanapun juga Toki adalah teman kami juga. Biarkan kami ikut membantu mencarinya.”
“Tapi…” ujar Yongso ingin menolak dan menyuruh mereka untuk pergi tidur saja.
Totto lalu menyela, “Biarkan mereka, lebih banyak orang akan lebih baik…”
“Oppa!” protes Yongso.
“Lagipula ini bisa menjadi poin plus-plus untuk mereka,” tambah Louis sambil mengedipkan sebelah matanya. “Okay, Chain~! Let’s see if you can find something similar like this,” katanya sambil menyodorkan sebuah botol kecil ke hidung Chain.
Chain langsung berlari melesat sambil menyeret Henry yang sedang memegang tali kekangnya ke arah jalan hutan tapi berhenti tepat di depan pintu masuknya. Chain menemukan sesuatu di sana. Sebuah kalung dengan dua bandul: Silver Cross dan White Gold Plate.
Louis memperhatikan kalung itu lalu berkata, “Bukankah ini kalung kunci apartemennya Toki? This white gold plate with magnet…
“Tidak~! Toki pasti telah diserang oleh seseorang!!” seru Yongso, Leeteuk, Eunhyuk, Shindong, dan Donghae melodramatis.
“Dasar lebay…” gumam Totto sweatdropped.
“Mengingat target adalah orang yang selalu cari aman, dia tidak akan jadi lewat jalan ini,” Louis kembali menyodorkan botol kecil tersebut ke hidung Chain.
Chain menoleh kesana-kemari mencari-cari bau yang sama. Tapi kemudian anjing itu menunduk dan mendengking karena tidak dapat menemukan bau yang sama lagi.
“Hujan menghapus jejaknya…” guman Louis.
Hankyung yang penasaran dengan isi botol kecil itu memintanya dari Louis. Ia lalu mencium isi botol tersebut dan samar-samar ia mencium bau obat steril dan… aroma teh? Hankyung mencoba menciumkan bau tersebut kepada Arthur yang tali kekangnya dipegang olehnya. Reaksi Arthur hanya mengarahkan kepalanya ke atas bukit.
Ketika rombongan itu kembali ke pantai sebuah geluduk mengejutkan mereka. Sepertinya hujan akan kembali turun dan mereka memutuskan untuk kembali ke hotel. Saat sudah hampir sampai di hotel—Heechul barulah sadar kalau sohibnya tidak ada bersama mereka.
“Yaa, dimana Hankyung?” tanya Heechul.
“Arthur juga tidak ada…” kata Eunhyuk.
“Sekarang dua orang dan seekor anjing menghilang,” desah Yongso.
“Hankyung… siapa yang akan membuatkan nasi goreng Beijing untukku lagi?” teriak Heechul depresi. Pertama dia kehilangan lawan adu mulutnya dan sekarang dia kehilangan tukang masaknya.
“Kalau dia sih tadi terakhir kulihat masih berdiri di depan pintu masuk hutan,” sela Zhou Mi.
“Yaa! Kenapa kau tidak bilang dari tadi!?” bentak Kangin. Dia bersama dengan Heechul menyiksa Zhou Mi. Zhou Mi yang malang… (comical)
Yongso berbalik ke arah Totto dan bertanya kepada pemuda perfect itu, “Oppa, benarkah kau tidak mempunyai petunjuk apapun kemana Toki akan pergi?”
“Yongso-ah, tidak ada yang tahu apa yang dipikirkan oleh Toki yang sekarang. Dia memang bisa membaca jalan pikiran kita, tapi kita tidak bisa membaca miliknya. Dia yang sekarang sangat mahir memasang topengnya…” jawab Totto.
“A, aku tahu…” ucap Yongso dengan kepala tertunduk. Di sampingnya Eunhyuk merangkulnya untuk menghiburnya.
Geez, that Geng-geng just disappears like phantom…” gumam Louis, “Nooo!! Seharusnya tadi aku tidak membiarkan Toki-chan kembali sendirian~!!!”
“Hankyung… sebagai leader Super Junior aku memang tidak berguna,” ucap Leeteuk langsung down. Dia dan Louis sampai berlutut di aspal. (Dasar lebay…)
“Apa yang akan kita lakukan terhadapa dua orang ini?” tanya Yongso.
Kangin menjawab, “Kalau Leeteuk hyung kubur saja di pantai saat surut.”
“Dan buang Louis ke laut saat pasang,” sambung Totto.
Tiba-tiba petir menggelegar, mengagetkan mereka semua. Dan hujan pun turun.
“Kyaaaaa~!” jerit Leeteuk, Ryeowook, dan Louis(?!) yang sedang feminin mode ON.
Lalu mereka kembali ke hotel dengan berlari. Atlet Siwon berada di garis depan bersama dengan Chain yang menyeret Henry yang ternyata menarik baju Donghae,  lalu tersambung ke Heechul, lalu Sungmin, lalu Kyuhyun, dan terakhir Zhou Mi. Saling menarik seperti kereta gandeng. Kapan sih mereka tidak pernah aneh dan ‘unbelievable’? Bukan Super Junior namanya kalau tidak ‘dorky’ begitu. Tiada hari tanpa tertawa bila bergaul dengan mereka.

~Parody~
Seandainya Hankyung tidak sengaja membawa serta pakaian dalamnya Toki—apa yang akan terjadi di dalam cottage-nya Super Junior? Beginilah jadinya:
Ketika Hankyung memperlihatkan jaketnya Toki ada yang jatuh dari jaket itu. Seluruh member langsung melirik ke arah benda yang terjatuh itu dan mata mereka melebar(bahkan Daesung Big Bang pun akan membuka mata sipitnya! Wkwkwk). Dalam bahasa Inggris kita menyebutnya: Bra and Panty. Kangin menjerit histeris senang melihat benda yang jarang-jarang bisa dilihat secara personal. Sementara religius Siwon menutupi matanya sambil menggumamkan kata-kata seperti doa tobat seperti dia baru saja melakukan sebuah dosa yang sangat besar. Shindong berhenti makan seakan-akan ia telah menemukan makanan yang lebih hebat lagi. Para maknae tidak bisa berkata apa-apa karena biasanya mereka hanya melihat celana dalam feminin seperti ini milik para hyung mereka. Heechul memukul kepala Hankyung. Leeteuk hampir pingsan karena dua benda itu. (LOL)
“Apa yang akan kita lakukan terhadap kedua benda ini?” tanya Kibum yang telah kembali tenang, “kita harus mengembalikannya…”
“Kalau tidak Toki akan memenggal kepala kita semua…” tambah Eunhyuk yang sudah ketakutan duluan.
“Tapi ini adalah pakaian dalam idola kita!” seru Kangin, “biarkan aku melihatnya lebih lama lagi!”
“Itu dosa, hyung. Apalagi kalau kau menyentuhnya…” kata Siwon sambil mengintip sedikit.
“Kangin hyung tidak akan mendengarkannya,” kata Zhou Mi.
“Tapi…” kata Heechul yang tawanya langsung meledak begitu saja hingga ia memegangi perutnya, “tapi siapa sangka kalau Toki akan memakai G-strings…”
Padahal tidak ada yang tahu kalau ternyata pakaian dalam itu adalah kostum cosplay milik anjingnya Toki, Arthur dan Chain. (-_-‘)